Pupuk Organik: Kunci Tanah Subur dan Panen Ramah Lingkungan
Desa Baku-Baku merupakan daerah agraris yang memiliki banyak limbah organik dari pertanian dan peternakan. Sayangnya, limbah tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan membuat pupuk organik, masyarakat bisa mengolah limbah menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi dan memperbaiki kualitas tanah.
Tujuan Kegiatan ini adaIah Memberdayakan masyarakat Desa Baku-Baku untuk memproduksi pupuk organik sendiri, Mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, Mewujudkan pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Pupuk Kompos (Padat)
Bahan yang Banyak di Desa Baku-Baku:
Kotoran sapi/kambing lokal
Daun bambu, daun pisang, jerami
Abu dapur dari kayu bakar
Langkah-langkah:
Tumpuk bahan organik di tanah atau tong besar.
Basahi agar tetap lembab (seperti spons diperas).
Aduk setiap 5-7 hari.
Dalam waktu 30–45 hari kompos siap digunakan (berwarna hitam dan tidak bau busuk).
Pupuk organik bukan sekadar solusi untuk kesuburan tanah, tapi juga bagian dari kemandirian desa. Dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada, Desa Baku-Baku bisa menjadi contoh desa hijau dan produktif secara mandiri.
Tujuan Kegiatan ini adaIah Memberdayakan masyarakat Desa Baku-Baku untuk memproduksi pupuk organik sendiri, Mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, Mewujudkan pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Pupuk Kompos (Padat)
Bahan yang Banyak di Desa Baku-Baku:
Kotoran sapi/kambing lokal
Daun bambu, daun pisang, jerami
Abu dapur dari kayu bakar
Langkah-langkah:
Tumpuk bahan organik di tanah atau tong besar.
Basahi agar tetap lembab (seperti spons diperas).
Aduk setiap 5-7 hari.
Dalam waktu 30–45 hari kompos siap digunakan (berwarna hitam dan tidak bau busuk).
Pupuk organik bukan sekadar solusi untuk kesuburan tanah, tapi juga bagian dari kemandirian desa. Dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada, Desa Baku-Baku bisa menjadi contoh desa hijau dan produktif secara mandiri.